Semarang – Perjalanan akademik Teguh Waluyo, wisudawan terbaik Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang, menyimpan kisah perjuangan dan keteguhan yang mendalam. Di balik keberhasilannya meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,93, terdapat pengalaman pribadi yang menjadikan skripsinya sebagai persembahan khusus untuk almarhum kakaknya.

Prestasi tersebut diumumkan dalam kegiatan Pelepasan dan Pembekalan Wisuda FDK UIN Walisongo di Hotel Grand Arkenzo Semarang, Kamis (5/11/2026). Teguh mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pendidikan sarjana dengan lancar. Baginya, predikat wisudawan terbaik merupakan karunia besar dari Allah Swt. yang diharapkan membawa manfaat, khususnya bagi keluarga.

Skripsi Teguh berjudul “Implementasi Konseling Krisis dalam Menangani Problem Psikososial Korban Bencana Alam di Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan”. Ketertarikannya pada topik tersebut berawal dari pengalamannya sebagai alumni pendidikan relawan Gladi Tangguh III UBALOKA (Unit Bantu Pertolongan Pramuka). Pengalaman terjun langsung dalam situasi kebencanaan membuatnya memahami persoalan psikososial, khususnya kedukaan yang dialami korban bencana.

Proses penelitian tidak mudah. Selain keterbatasan referensi tentang konseling krisis dan kebencanaan, Teguh harus melalui proses perizinan berjenjang hingga ke tingkat kecamatan dan desa. Ia juga harus berhati-hati ketika mewawancarai para penyintas agar tidak membuka kembali pengalaman traumatis mereka.

Tantangan semakin berat ketika kakak kandungnya meninggal dunia secara mendadak. Peristiwa tersebut membuatnya menghentikan proses wawancara selama beberapa bulan. Namun, pengalaman kehilangan justru membuatnya semakin memahami persoalan kedukaan yang menjadi fokus penelitiannya.

“Skripsi ini menjadi obat kehilangan saya dan saya persembahkan untuk almarhum kakak kandung saya,” ungkap Teguh.

Di tengah perjuangan akademik, Teguh juga menjalani berbagai pekerjaan untuk membiayai kebutuhan kuliahnya. Ia pernah menjadi mitra Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kegiatan sensus, pelatih ekstrakurikuler paskibra di SMK Negeri 1 Sragi, serta membantu bisnis keluarga secara daring. Ia mengatur jadwal kuliah di Semarang dan bekerja di Pekalongan pada hari-hari lainnya.

Ketekunannya dalam membaca juga menjadi salah satu kunci menyelesaikan studi. Ia mengingat pesan Fahrudin Faiz yang pernah ditemuinya saat menyusun skripsi, “Menulis itu lama, Mas, kalau mau tulisannya bagus. Rajinlah membaca.” Pesan tersebut memotivasinya untuk terus memperbanyak referensi dan memperbaiki tulisan.

Ke depan, Teguh berharap skripsinya dapat dikembangkan menjadi artikel jurnal dan buku tentang konseling krisis dalam kebencanaan. Ia juga berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S-2) agar dapat memperdalam keilmuannya dan memberikan kontribusi bagi penyintas bencana serta para relawan dan konselor sosial.

Bagi Teguh, keberhasilan hari ini tidak lepas dari doa dan dukungan kedua orang tuanya, Castiyem dan Karban, yang bekerja sebagai buruh tani melati di wilayah pesisir Pekalongan. Ia berharap kelak dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

“Terima kasih banyak untuk Bapak dan Ibu. Semoga saya bisa membahagiakan mereka di hari tua dan menjadi orang yang sukses serta berguna,” tuturnya.

Kepada rekan-rekan wisudawan, Teguh berpesan agar mempersiapkan mental, hard skill, dan soft skill sebelum memasuki dunia profesional. Menurutnya, kejenuhan dan kesulitan merupakan bagian dari perjalanan mahasiswa.

“Mengeluh jenuh itu boleh, tetapi jangan menyerah. Kita pasti bisa walaupun jalannya terjal,” pesannya.