Memperingati Hari Lahir Pancasila, mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah angkatan 2023 Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang menggelar dialog interaktif bertajuk “Rawat Persatuan, Hentikan Kekerasan Seksual” di Taman Dakwah FDK, Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi mengenai relevansi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, khususnya kekerasan seksual dan ketidaksetaraan gender.
Menghadirkan Ketua Korps PMII Putri (KOPRI) UIN Walisongo Semarang, Erma Padmahsari, dialog tersebut mengajak peserta memahami bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga pedoman moral dalam membangun kehidupan masyarakat yang aman, adil, dan berkeadaban.
Dalam pemaparannya, Erma menjelaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila memiliki keterkaitan dengan upaya pencegahan kekerasan seksual. Nilai ketuhanan mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia, nilai kemanusiaan menolak segala bentuk kekerasan, nilai persatuan mendorong terciptanya lingkungan yang saling melindungi, sementara nilai demokrasi dan keadilan sosial menjadi landasan dalam menghadirkan kebijakan serta perlindungan bagi korban.
Menurut Erma, kekerasan seksual tidak hanya terjadi dalam bentuk tindakan individu, tetapi juga dapat muncul secara struktural melalui budaya, norma sosial, maupun sistem yang belum berpihak kepada korban.
“Perlu teman-teman sadari bahwa kekerasan seksual bukan hanya bisa terjadi secara individual, tetapi juga bisa terjadi secara struktural,” jelasnya.
Selain membahas kekerasan seksual, dialog juga menyoroti persoalan ketidaksetaraan gender dan budaya patriarki yang masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Peserta diajak memahami berbagai bentuk ketidakadilan gender, seperti marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, dan beban ganda yang kerap dialami perempuan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai cara menghadapi diskriminasi, menjaga semangat kebangsaan, hingga upaya membangun kesadaran sosial di era digital. Menanggapi hal tersebut, Erma mengajak peserta untuk memulai perubahan dari lingkungan terdekat, termasuk melalui penggunaan media sosial yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
“Kalau ingin menjaga persatuan, kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menggunakan media sosial. Hargai pendapat orang lain dan jangan ragu untuk saling mengingatkan dalam kebaikan,” tuturnya.
Pada akhir kegiatan, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi kasus kekerasan seksual, mulai dari berani berbicara, menyimpan bukti, mencari dukungan dari pihak terpercaya, hingga melaporkan kasus kepada lembaga yang berwenang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Manajemen Dakwah berharap peringatan Hari Lahir Pancasila tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi momentum untuk menguatkan komitmen bersama dalam menghormati martabat manusia, menolak segala bentuk kekerasan, dan mewujudkan lingkungan yang aman, setara, serta berkeadilan bagi semua.
