Semarang –Kata “bertahan” menjadi ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan Nurina Zain, salah satu wisudawan terbaik UIN Walisongo Semarang. Berangkat dari keterbatasan ekonomi dan sempat tidak mendapat dukungan untuk melanjutkan kuliah, ia akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga meraih predikat wisudawan terbaik.

Pencapaian tersebut menjadi kejutan tersendiri. Sejak awal perkuliahan, ia mengaku tidak pernah menargetkan menjadi yang terbaik. Targetnya sederhana, yakni mampu mengikuti seluruh proses perkuliahan dan menyelesaikan berbagai tugas dengan sebaik mungkin.

“Alhamdulillah senang, dan masih ada sedikit rasa tidak percaya,” ungkapnya.

Perjalanan menuju gelar sarjana tidak selalu mudah. Kondisi ekonomi keluarga sempat membuatnya dilarang melanjutkan kuliah. Namun, keinginan untuk membanggakan kedua orang tua membuatnya memilih untuk terus bertahan. Kesempatan kemudian datang melalui beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang membantunya melanjutkan pendidikan.

Ayahnya, Mujib Khaeruyen, sehari-hari berkeliling kampung menjajakan marning, sementara sang ibu membantu menyiapkan dagangan di rumah. Di tengah keterbatasan tersebut, keduanya tetap menyimpan harapan agar anaknya dapat memperoleh pendidikan tinggi.

“Terima kasih banyak Bapak dan Ibu, atas beribu-ribu usaha dan doa yang terlangitkan. Semoga Allah selalu rida dengan kalian,” tuturnya.

Dalam perjalanan akademiknya, ia mengangkat penelitian yang berawal dari keresahan terhadap persoalan kecemasan, khususnya pada penyandang disabilitas. Ia tertarik mengkaji strategi koping dalam mengatasi kecemasan pada penyandang disabilitas dalam konteks bimbingan agama Islam di majelis pengajian difabel.

Menurutnya, proses pengolahan data menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyusunan skripsi. Ia dituntut untuk menerjemahkan berbagai temuan ke dalam bahasa ilmiah. Namun, proses tersebut justru memunculkan berbagai pertanyaan baru yang mendorongnya untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut.

Konsistensi selama kuliah ia bangun melalui kebiasaan membaca. Ia tidak hanya membaca buku yang berkaitan dengan tugas perkuliahan, tetapi juga berbagai bacaan dalam rumpun keilmuan yang sama. Dari kebiasaan tersebut, ia terbiasa menemukan pertanyaan baru yang kemudian mendorongnya untuk terus belajar.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama kuliah adalah ketika dirinya dilibatkan dalam program pengabdian dosen. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk belajar sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Setelah lulus, ia berencana bekerja sembari mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi S2 melalui beasiswa. Kepada teman-teman seperjuangan, ia berpesan agar terus mempersiapkan kemampuan menghadapi dunia setelah kampus.

“Siapkan skill dan energi untuk beradaptasi, gali semua kemungkinan jalan yang membawakanmu pada kesuksesan versimu,” pesannya.

Dari keterbatasan ekonomi, perjuangan memperoleh pendidikan, hingga berdiri sebagai wisudawan terbaik, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan selalu akhir dari sebuah cita-cita. Bagi sang wisudawan, seluruh perjalanan kuliahnya dapat dirangkum dalam satu kata: bertahan.