Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang terus berkomitmen memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Salah satu bentuk konkret komitmen tersebut diwujudkan melalui Koordinasi dan Diskusi Peluang dan Tantangan KKN Nusantara di Papua Level Universitas (lintas Fakultas) yang digelar pada Kamis, 29 Januari 2026, bertempat di Ruang Sidang Utama Lantai II FDK UIN Walisongo Semarang.

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi pelaksanaan KKN Nusantara Papua yang telah dilaksanakan FDK pada tahun 2025, sekaligus merumuskan pengembangan program agar dapat diperluas dan diimplementasikan pada level universitas dengan melibatkan seluruh fakultas di UIN Walisongo.

Acara dipandu oleh Kepala Bagian Tata Usaha FDK, H. Muntoha, S.Ag., M.M., dan secara resmi dibuka oleh Dekan FDK, Prof. Dr. Moh. Fauzi, M.Ag. Dalam sambutannya, Dekan FDK menegaskan pentingnya “menaikkan level” KKN Nusantara Papua agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga benar-benar dirasakan oleh masyarakat Papua.

Selanjutnya, Perwakilan LP2M UIN Walisongo, yang diwakili oleh Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, Moh. Masrur, M.Ag., memaparkan bahwa program KKN Nusantara Papua merupakan kegiatan yang sangat menarik dan bernilai tinggi. Menurutnya, pengalaman pengabdian di Papua menghadirkan pembelajaran yang tidak dapat diperoleh mahasiswa hanya dari bangku perkuliahan, karena mahasiswa berhadapan langsung dengan realitas sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat.

Diskusi kemudian dimoderatori oleh Wakil Dekan I FDK, Komarudin, M.Ag., dengan menghadirkan Presiden Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan. Beliau merupakan pendakwah dan ulama asal Papua Barat sekaligus pendiri Yayasan AFKN, yang selama ini aktif mendampingi dan menguatkan masyarakat Papua melalui berbagai program dakwah dan pemberdayaan.

Dalam sesi diskusi, perwakilan mahasiswa turut menyampaikan pengalaman lapangan. Salah satu perwakilan mahasiswa peserta KKN Nusantara Papua mengungkapkan bahwa program pengabdian yang dilakukan mahasiswa terbukti memberikan dampak nyata. Ia mencontohkan pelatihan pembuatan tempe yang mampu menggerakkan perputaran ekonomi masyarakat setempat. Ke depan, ia berharap proses rekrutmen mahasiswa dapat dilakukan lebih selektif agar tepat sasaran, serta program KKN disusun lebih tematik sehingga arah penelitian dan pengabdian menjadi lebih fokus dan berdampak. Kehadiran mahasiswa KKN juga dinilai sangat membantu dalam pendataan serta perapihan administrasi kampung.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa lainnya menegaskan bahwa KKN Nusantara Papua benar-benar memberikan pengalaman pengabdian yang bermakna. Mahasiswa tidak sekadar menjalankan program formal, tetapi melakukan analisis kebutuhan masyarakat dengan melihat potensi kampung secara menyeluruh, termasuk analisis SWOT. Dengan demikian, program yang dijalankan tidak hanya mengikuti agenda pemerintah desa, melainkan lahir dari kebutuhan riil masyarakat.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh para Wakil Dekan FDK, para Wakil Dekan I dari fakultas-fakultas di lingkungan UIN Walisongo, perwakilan LP2M, panitia KKN, serta perwakilan mahasiswa dari setiap posko KKN Nusantara Papua 2025, dengan ketentuan masing-masing desa diwakili oleh dua mahasiswa. Dalam sesi akhir, para Wakil Dekan dan perwakilan fakultas menyampaikan tanggapan serta pertanyaan sebagai bentuk komitmen bersama untuk mengembangkan KKN Nusantara Papua menjadi program unggulan lintas fakultas.

Melalui forum ini, FDK UIN Walisongo berharap KKN Nusantara Papua dapat dikembangkan pada level universitas sebagai bagian dari implementasi MBKM yang terarah, berkelanjutan, dan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua.