Semarang – Anifatus Zahrotus Sa’diyah berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90. Penghargaan tersebut diumumkan dalam kegiatan Pelepasan dan Pembekalan Wisuda FDK UIN Walisongo yang diikuti 109 calon wisudawan di Hotel Grand Arkenzo Semarang, Kamis (5/11/2026).
Anifatus mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Baginya, predikat wisudawan terbaik bukanlah target yang secara khusus ditetapkan sejak awal perkuliahan, melainkan bonus dari proses panjang yang dijalani dengan ikhtiar, doa, dan konsistensi.
“Saya tidak pernah menargetkan menjadi wisudawan terbaik. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik selama perkuliahan. Predikat ini menjadi bonus dari ikhtiar dan doa yang selama ini saya upayakan,” ungkapnya.
Prestasi akademik tersebut juga diiringi ketertarikannya pada isu dakwah dan lingkungan. Hal ini tercermin dalam skripsinya yang berjudul “Strategi Komunikasi Persuasif dalam Gerakan Sedekah Sampah oleh Komunitas Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Muhammadiyah Ngaglik Kabupaten Sleman”.
Melalui penelitian tersebut, Anifatus mengkaji strategi komunikasi persuasif yang digunakan komunitas dalam menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan melalui mekanisme sedekah. Menurutnya, sampah yang selama ini dipandang tidak memiliki nilai manfaat ternyata dapat memberikan nilai sosial dan ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Ia berharap gerakan sedekah sampah dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah, dimulai dari lingkungan keluarga. Terlebih, nilai-nilai kepedulian sosial dalam Islam dapat menjadi kekuatan untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Perjalanan menyelesaikan skripsi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Anifatus harus beberapa kali mengganti objek penelitian hingga akhirnya menemukan komunitas GSS Muhammadiyah Ngaglik. Pengalaman terjun langsung dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas menjadi salah satu bagian paling berkesan selama proses penelitiannya.
Di tengah kesibukan akademik, ia menerapkan skala prioritas dengan menempatkan kuliah dan tugas sebagai tanggung jawab utama, sementara organisasi dan aktivitas sosial menjadi ruang pengembangan diri. Konsistensi itu dijaga dengan rutin mengerjakan skripsi di Perpustakaan Pusat UIN Walisongo setiap hari, sembari tetap menjalani pekerjaan paruh waktu.
Salah satu masa terberat yang dihadapinya adalah ketika harus mengganti judul dan lokasi penelitian untuk ketiga kalinya. Namun, pengalaman tersebut menjadi titik refleksi baginya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.
“Dari situ saya menyadari bahwa keberhasilan bukan semata-mata hasil usaha pribadi, tetapi juga melibatkan pertolongan Allah. Saya kemudian berusaha memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya,” tuturnya.
Kisah Anifatus menunjukkan bahwa prestasi akademik tidak hanya dibangun melalui kecerdasan, tetapi juga konsistensi, kemampuan mengelola prioritas, ketangguhan menghadapi tantangan, dan kekuatan spiritual. Melalui penelitiannya, ia juga memperlihatkan bahwa ilmu komunikasi dan dakwah dapat mengambil peran nyata dalam menjawab persoalan lingkungan di masyarakat.