Semarang –Berasal dari keluarga sederhana dan sempat menganggap kuliah sebagai angan-angan, Rima berhasil menorehkan prestasi sebagai wisudawan terbaik Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Prestasi tersebut disampaikan dalam Pelepasan Calon Wisudawan KPI yang digelar pada Jumat(22/8/2026) di Hotel Grasia Semarang.

Rima mengaku tidak pernah menargetkan predikat wisudawan terbaik. Baginya, dapat menyelesaikan kuliah dan lulus tepat waktu sudah menjadi pencapaian besar.

“Saya benar-benar tidak menyangka. Menjadi wisudawan terbaik ini saya anggap sebagai bonus dan hadiah dari Allah atas perjalanan panjang yang saya jalani,” ungkap Rima.

Selama kuliah, Rima menjalani berbagai aktivitas, mulai dari perkuliahan, pekerjaan freelance, hingga organisasi. Ia belajar mengatur waktu dengan menentukan prioritas dan menyelesaikan setiap tanggung jawab secara konsisten.

Perjalanan tersebut juga tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terberat dialaminya ketika sang ayah, Amirudin, yang bekerja sebagai pedagang bubur kacang, mengalami sakit. Sementara sang ibu, Saryuni, merupakan ibu rumah tangga yang senantiasa memberikan doa, motivasi, dan dukungan.

Kondisi tersebut justru menjadi sumber kekuatan bagi Rima untuk terus menyelesaikan pendidikannya. “Kalau mereka terus berjuang untuk saya, saya juga tidak boleh menyerah terhadap perjuangan yang sudah saya mulai,” tuturnya.

Dalam bidang akademik, Rima menyelesaikan skripsi berjudul “Strategi Komunikasi Kehumasan Pondok Pesantren Sabilul Huda Kabupaten Brebes dalam Meningkatkan Citra Positif sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang Terpercaya.” Penelitian tersebut mengkaji strategi komunikasi dan kehumasan lembaga pendidikan Islam dalam membangun citra positif serta kepercayaan masyarakat.

Ia berharap penelitiannya tidak berhenti sebagai syarat memperoleh gelar sarjana, tetapi dapat menjadi referensi bagi lembaga pendidikan Islam dalam membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat.

Bagi Rima, pencapaian ini bukan semata-mata hasil perjuangan pribadi. Terlebih, momen tersebut menjadi wisuda pertama dalam keluarganya. Ia menyadari bahwa ada doa dan perjuangan kedua orang tuanya di balik keberhasilannya.

“Gelar ini mungkin tertulis atas nama saya, tetapi di dalamnya ada nama, doa, keringat, dan perjuangan Bapak dan Ibu,” ujarnya.

Ke depan, Rima ingin terus mengembangkan diri dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh, terutama di bidang komunikasi dan kehumasan. Ia juga ingin mendapatkan pengalaman di dunia kerja.

Bagi Rima, wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk memulai perjalanan baru. Kepada teman-teman seperjuangan, ia berpesan agar tidak takut ketika belum mengetahui arah setelah lulus dan tidak membandingkan perjalanan dengan orang lain.

“Setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Tetaplah belajar, terus berusaha, dan jangan menyerah.”

Bagi Rima, jika seluruh perjalanan kuliahnya harus dirangkum dalam satu kata, jawabannya sederhana“Perjuangan.”