Perjalanan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 262 juta pada 2030. Pertumbuhan tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan wisata halal di tingkat global sekaligus menuntut pengelolaan destinasi yang berkualitas, aman, dan sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menghadirkan pakar internasional dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Dr. Azila Azmi, dalam seminar bertajuk “Contemporary Trends in Halal and Religious Tourism Management”, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Utama FDK UIN Walisongo Semarang ini diikuti 80 peserta dari kalangan mahasiswa dan sivitas akademika. Seminar tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan internasional untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan pengelolaan wisata halal dan religi, termasuk aspek keselamatan wisatawan, jaminan kualitas layanan, dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan destinasi.
Berdasarkan laporan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index 2026, Malaysia menempati peringkat pertama destinasi ramah Muslim dunia, sedangkan Indonesia berada di posisi kedua bersama Arab Saudi dan Türkiye. Data ini menunjukkan peluang bagi Indonesia untuk terus memperkuat daya saing pariwisata halal melalui peningkatan kualitas pelayanan, pengelolaan destinasi, dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi Manajemen Dakwah, Dr. Dedy Susanto, S.Sos.I., M.S.I. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar internasional yang menghadirkan perspektif akademisi dari Malaysia. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa sekaligus membekali mereka dengan wawasan global dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri pariwisata.

Dalam pemaparannya, Dr. Azila Azmi mengawali diskusi dengan mengajak mahasiswa merefleksikan kesiapan karier dan perencanaan masa depan. Ia mendorong mahasiswa untuk menetapkan target yang terukur serta mulai membangun kompetensi profesional sejak di bangku kuliah.
Dr. Azila menjelaskan bahwa wisata halal tidak cukup dipahami sebatas penyediaan makanan halal dan fasilitas ibadah. Aspek keselamatan dan keamanan wisatawan, kualitas pelayanan, serta kenyamanan selama perjalanan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan destinasi. Dalam perspektif Islam, prinsip hifz an-nafs atau perlindungan jiwa menjadi landasan penting untuk memastikan keselamatan wisatawan sebagai bagian dari tata kelola pariwisata yang bertanggung jawab.
Ia juga menyoroti pentingnya jaminan kualitas dan sertifikasi halal dalam membangun kepercayaan wisatawan Muslim. Ketersediaan informasi yang jelas dan dapat dipercaya mengenai produk maupun layanan halal menjadi salah satu unsur penting dalam meningkatkan kualitas pengalaman wisata. Di Indonesia, penyelenggaraan jaminan produk halal dilaksanakan melalui mekanisme yang diatur pemerintah, termasuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
Selain aspek kualitas layanan, Dr. Azila membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi digital dalam pengelolaan wisata religi. Menurutnya, teknologi tidak semestinya hanya digunakan untuk transaksi ekonomi dan promosi, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi, penyampaian informasi sejarah, serta komunikasi nilai-nilai keagamaan dan budaya kepada masyarakat luas.
Ia menguraikan empat peran teknologi dalam pengembangan wisata religi, yaitu educate, interpret, guide, dan connect. Melalui fungsi educate, teknologi dapat membantu memperkenalkan sejarah dan warisan budaya Islam kepada masyarakat luas. Fungsi interpret membantu wisatawan memahami makna sejarah dan nilai spiritual suatu situs keagamaan. Sementara itu, guide memungkinkan teknologi memberikan panduan kepada pengunjung agar menjaga etika dan menghormati tempat yang dikunjungi. Adapun connect menekankan peran teknologi dalam menghubungkan wisatawan dengan komunitas lokal melalui interaksi yang inklusif dan saling menghargai.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan wisata religi tidak hanya berorientasi pada kunjungan dan aktivitas ekonomi, tetapi juga pada pengalaman edukatif, penguatan nilai spiritual, serta pelestarian warisan budaya. Dalam konteks Manajemen Dakwah, pendekatan ini membuka peluang bagi pengembangan dakwah yang lebih kreatif dan kontekstual melalui pengelolaan destinasi serta komunikasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat yang lebih luas.
Seminar dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan mahasiswa dan sivitas akademika. Pada sesi penutup, Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah sekaligus moderator kegiatan, Lukmanul Hakim, M.Sc., menegaskan pentingnya penyelarasan pemahaman dan penguasaan teknologi digital untuk menyongsong perkembangan pariwisata Islam.
Melalui seminar internasional ini, Prodi Manajemen Dakwah FDK UIN Walisongo Semarang menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas pembelajaran melalui pertukaran pengetahuan lintas negara. Kehadiran pakar UiTM Malaysia diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa mengenai pengelolaan wisata halal dan religi, sekaligus mendorong lahirnya lulusan yang profesional, inovatif, dan mampu mengintegrasikan ilmu manajemen, nilai-nilai keislaman, serta perkembangan teknologi dalam menghadapi tantangan industri pariwisata global.