Jakarta, 30 September 2026 — Walisongo TV UIN Walisongo Semarang melaksanakan rangkaian kegiatan pengembangan wawasan dan kompetensi broadcasting melalui studi banding bersama DNK TV FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta kegiatan STUMED (Studi Media) di Trans7. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi kru Walisongo TV untuk mempelajari pengelolaan media dari perspektif sesama media mahasiswa sekaligus melihat secara langsung praktik kerja industri televisi profesional.
Kegiatan ini melibatkan kru aktif Walisongo TV serta didampingi oleh Fatimah Nadia Qurrota Ayun selaku Koordinator Media dan Broadcasting dan Fitri selaku Koordinator Media dan Public Relations dari UIN Walisongo Semarang. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Walisongo TV berupaya memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya diperoleh melalui lingkungan kampus, tetapi juga melalui interaksi dan pertukaran pengalaman dengan media mahasiswa lain serta praktisi di industri broadcasting.
Di tengah perkembangan media digital yang semakin dinamis, kemampuan untuk beradaptasi dan terus mengembangkan kompetensi menjadi hal penting bagi pengelola media mahasiswa. Setiap media memiliki karakteristik, sistem kerja, pendekatan produksi, hingga strategi pengembangan program yang berbeda. Karena itu, kegiatan kunjungan dan pertukaran pengalaman menjadi ruang bagi anggota Walisongo TV untuk memperoleh referensi baru sekaligus melakukan evaluasi terhadap pengelolaan media yang selama ini dijalankan.
Bertukar Pengalaman bersama DNK TV FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Salah satu rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui studi banding bersama DNK TV FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Studio DNK TV. Kegiatan diawali dengan sambutan dari perwakilan dosen pendamping UIN Walisongo Semarang, Fatimah Nadia Qurrora Ayun, selaku Koordinator Media dan Broadcasting UIN Walisongo Semarang.
Dalam sambutannya, Nadia menyampaikan apresiasi kepada DNK TV sekaligus menjelaskan tujuan kedatangan Walisongo TV.
“Terima kasih kepada DNK TV karena telah menerima kami dengan hangat. Tujuan kami kesini ada dua, yaitu untuk menjalin tali silaturahmi dan juga untuk belajar, untuk menambah wawasan kami,” ujar Fatimah Nadia Qurrota Ayun.
Rangkaian sambutan kemudian dilanjutkan oleh Station Manager DNK TV, FaizzamyFirdiansah, serta Direktur Walisongo TV, Azkia Naurajiwa. Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi profil masing-masing media, pemaparan struktur organisasi, serta sharing mengenai program dan konten yang dikembangkan oleh kedua media.
Presentasi diawali oleh DNK TV yang memperkenalkan profil, struktur organisasi, sistem kerja, serta program-program yang mereka jalankan. Salah satu hal yang menjadi pembahasan adalah penggunaan istilah Station Manager dalam struktur organisasi DNK TV.
Menurut Faizzamy Firdiansah, penggunaan struktur tersebut mengacu pada sistem kerja televisi konvensional agar anggota memiliki pengalaman yang lebih dekat dengan lingkungan kerja industri broadcasting.
“Disebut Station Manager karena kiblatnya mengacu pada TV konvensional. Dibuat seperti itu supaya ketika masuk ke dunia kerja di stasiun TV, sudah terbiasa dan tidak kaget,” jelas Faizzamy Firdiansah selaku Station Manager DNK TV.
DNK TV juga memperkenalkan sejumlah program tahunan, di antaranya DNK Berbagi, Campus Broadcasting Expo (CBX), dan Media Development Program (MDP). CBX mencakup bidang seperti perfilman, media sosial, dan jurnalistik, sedangkan MDP menjadi program pengembangan yang ditujukan bagi mahasiswa FDIKOM melalui open recruitmentdan pembinaan anggota.
Pemaparan tersebut memberikan referensi kepada kru Walisongo TV mengenai bagaimana media mahasiswa dapat mengembangkan sistem organisasi sekaligus mengintegrasikan bidang broadcasting, jurnalistik, media sosial, dan pengembangan sumber daya manusia.
Setelah pemaparan dari DNK TV, Walisongo TV turut memperkenalkan profil komunitas, struktur organisasi, program kerja, serta berbagai aktivitas yang dijalankan oleh masing-masing divisi. Sesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan media mahasiswa.
Melihat Praktik Broadcasting Profesional di Trans7

Selain bertukar pengalaman dengan sesama media mahasiswa, Walisongo TV juga memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk mengenal lebih dekat dunia industri broadcasting melalui kegiatan STUMED di Trans7.
Kunjungan tersebut bertujuan memberikan gambaran kepada kru Walisongo TV mengenai bagaimana proses kerja broadcaster dalam lingkungan industri televisi profesional. Hal tersebut juga menjadi kesempatan bagi anggota untuk melihat secara langsung berbagai aspek produksi yang selama ini dipelajari dalam lingkungan media kampus.
Direktur Walisongo TV, Azkia Naurajiwa, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengenalkan dunia kerja broadcasting kepada anggota, tetapi juga mencari referensi yang dapat diterapkan dalam pengembangan production house WalisongoTV.
“Saya membawa teman-teman Walisongo TV ke Trans7 itu untuk belajar bagaimana broadcaster bekerja secara profesional di lapangan. Lalu juga mungkin layout-layout yang disajikan itu bisa menjadi inspirasi untuk production house Walisongo TV,” ujar Azkia Naurajiwa selaku Direktur Walisongo TV.
Dalam kunjungan tersebut, kru Walisongo TV disambut oleh tim Public Relations (PR) Trans7. Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai profil dan sejarah singkat Trans7, dilanjutkan dengan pengenalan berbagai program serta karakteristik yang menjadi bagian dari stasiun televisi tersebut.
Salsa, selaku perwakilan tim PR Trans7, menjelaskan mengenai karakter program Trans7 dan perbedaannya dengan Trans TV.
“Yang membedakan stasiun televisi ini sama Trans TV itu ada di programnya. Kalau Trans TV lebih ke hiburan, sedangkan kalau Trans7 itu hiburan dan edukasi,” jelas Salsa selaku tim PR Trans7.
Selain pengenalan program, tim PR Trans7 juga menjelaskan pihak-pihak yang terlibat di balik produksi sebuah program televisi. Pemaparan tersebut memberikan gambaran kepada kru Walisongo TV mengenai pembagian kerja dalam industri broadcasting, peran kru di balik layar, serta pentingnya koordinasi dalam proses produksi.
Kru Walisongo TV juga mendapatkan wawasan mengenai proses kreatif dan manajemen produksi televisi. Dari tahap pengembangan ide hingga pelaksanaan produksi, setiap bagian memiliki peran yang saling berkaitan untuk menghasilkan sebuah program yang sesuai dengan konsep dan kebutuhan tayangan.
Selain membahas proses produksi, tim PR Trans7 memperkenalkan Trans7 Club, sebuah komunitas yang diinisiasi oleh tim PR Trans7. Anggota komunitas tersebut memiliki kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Trans7, termasuk kegiatan volunteer dalam program CSR Trans7 Mengajar, yang saat ini telah memasuki batch ke-13, serta kegiatan Weekend Project dan berbagai aktivitas lainnya.
Pemaparan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang mendapat antusiasme dari kru Walisongo TV. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai program televisi, proses produksi, pembagian kerja, hingga pengalaman bekerja di industri broadcasting. Sesi tersebut menjadi ruang bagi anggota untuk memperoleh gambaran mengenai tuntutan dan tantangan dalam lingkungan kerja televisi profesional.
Rangkaian kunjungan kemudian ditutup dengan studio tour. Kru Walisongo TV berkesempatan mengunjungi Studio 2 Trans7, yang digunakan untuk proses produksi program Arisan. Melalui studio tour tersebut, anggota dapat melihat secara langsung bagaimana ruang produksi televisi ditata dan digunakan untuk mendukung kebutuhan sebuah program.
Menjadi Referensi Pengembangan Walisongo TV
Rangkaian studi banding dan STUMED tersebut memberikan pengalaman belajar dari dua perspektif yang saling melengkapi. Melalui DNK TV, kru Walisongo TV memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman dengan sesama media mahasiswa mengenai sistem organisasi, pengembangan program, pengelolaan konten, serta pengembangan sumber daya manusia.
Sementara itu, kunjungan ke Trans7 memberikan gambaran yang lebih dekat mengenai lingkungan kerja broadcasting profesional, mulai dari pembagian peran kru, proses kreatif, manajemen produksi, hingga penggunaan ruang dan fasilitas produksi televisi.
Berbagai wawasan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus referensi bagi Walisongo TV dalam mengembangkan program, konten, sistem kerja, serta production house ke depannya. Pengalaman tersebut juga diharapkan dapat mendorong anggota untuk terus meningkatkan kompetensi dan mempersiapkan diri menghadapi perkembangan industri media.
Bagi Walisongo TV, rangkaian kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi menjadi ruang untuk belajar, bertukar pengalaman, memperluas jaringan, dan melihat praktik broadcasting dari perspektif yang lebih luas. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh dapat dibawa kembali ke lingkungan Walisongo TV dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi serta karakter media kampus.