Semarang – Tanggal 16 dan 17 November 2021 UIN Walisongo Semarang kembali menggelar wisuda untuk program Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor. Dari sekian mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang menjadi wisudawan periode November 2021 ini, ada salah satu mahasiswa yang memiliki kisah menarik dan inspiratif selama menempuh studinya. Mahasiswa tersebut bernama Muhammad Muhlis Faroqi dari program studi Pengembangan Masyarakat Islam. Keadaan keluarganya yang sederhana, tak membuat tekad melanjutkan studinya luntur. Bahkan, ia berharap kelak dengan bekal ilmu dan pengalaman yang dimilikinya, ia dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi keluarga dan masyarakatnya. Di sela-sela waktu mempersiapkan acara wisudanya, mahasiswa yang lahir di Demak, tanggal 15 Maret 2000 ini membagikan sekilas perjalanan hidupnya selama menjadi mahasiswa di UIN Walisongo Semarang. “Saya tahu dan sadar bahwa saya berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Akan tetapi, hal ini bukan berarti menjadi alasan bagi saya untuk tidak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Untuk menekan biaya hidup, transportasi, dan sewa tempat tinggal, selama menjadi mahasiswa UIN Walisongo Semarang saya menjadi marbut di masjid yang jaraknya tidak jauh dari kampus. Saat menjadi marbut saya dikasih uang saku, makan setiap harinya, jaminan kesehatan, dan fasilitas tempat istirahat,” tandasnya meyakinkan. Selain menjadi mahasiswa dan marbut, Muhlis juga ternyata memiliki kegiatan lain yakni menjadi pelayan di suatu rumah makan dan pelayan katering saat ada event pernikahan. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk membantu orang tua dalam membiayai kuliahnya. “Setiap akhir pekan terkadang saya bekerja freelan menjadi pelayan di rumah makan dan pelayan katering kalau ada event pernikahan. Alhamdulillah orang tua sih sudah mengizinkan saya kuliah sambil kerja. Saya harus prihatin karena orang tua saya kurang mampu. Profesi ayah saya seorang pekerja bangunan dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Satu pesan dari ayah saya yang selalu saya ingat, ‘Ingat tujuanmu kuliah. Kamu harus belajar sungguh-sungguh. Kerja tidak apa-apa yang penting tidak mengganggu kuliahmu’. Kata-kata dari beliau selalu teringat di pikiran saya,” paparnya dengan sedikit perasaan haru. Muhlis memiliki pemikiran bahwa sebagai mahasiswa dirinya belajar tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas saja. Baginya, lingkungan luar kelas pun dapat dijadikan tempat belajar. Oleh karena itu, selain belajar saat perkuliahaan, ia juga aktif dalam kegiatan organisasi kampus dan kegiatan kemasyarakatan tempat ia tinggal. Memasuki semester 5 hingga 6 ia mengaku mulai bergabung di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Dakwah (PMII RADA) dan diamanahi sebagai Koordinator Departemen Keagamaan. Setelah itu, ia juga bergabung di DEMA F (Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas) dan diamanahi sebagai Koordinator Kementrian Keagamaan DEMA F. Adapun dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan, ia aktif dalam kegiatan sosial seperti gotong-royong warga, walimah, dan lain-lain. Di akhir pernyataannya saat wawancara, Muhlis menyampaikan harapannya setelah lulus yaitu memiliki pekerjaan yang baik, ingin melihat orang tuanya bahagia karena kesuksesannya, menikah, membuka bisnis, bahkan ia ingin melanjutkan studinya yakni kuliah lagi. Dengan berbekal niat, semangat, dan tekad menuntut ilmu yang kuat, akhirnya Allah memberikan jalan dan kemudahan bagi Muhlis untuk dapat menyelesaikan studinya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X