Bangun Keseimbangan Lahiriyah dan Batiniyah, FDK Semarakkan Khataman dan Nuzul Qur’an

Semarang—Lantunan ayat suci al-Qur’an kembali mengisi ruang online Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang tadi malam (08/05/2020). Channel Youtube milik WTV dan MBS sebagai platform acara pun memanen banyak likes dan subscriber baru dari para viewers. Rupanya, FDK sedang melaksanakan agenda Khatmil Quran dan Nuzul Quran via daring. Wabah Covid 19 tak menyurutkan semangat FDK untuk tetap berkarya.

Agenda Khatmil Quran FDK sebagai rangkaian kegiatan Gema Ramadhan 1441 H adalah puncak dari tadarus al-Quran harian dengan pembagian juz-juz tertentu kepada semua dosen dan tendik. Khatmil Qur’an ditayangkan secara mingguan, namun tadi malam agenda ini sengaja diadakan bersamaan dengan peringatan Nuzul al-Quran mengingat waktu pelaksanaan keduanya yang berdekatan.

Turut hadir dalam acara ini seluruh jajaran dekanat FDK, Kajur dan Sekjur seluruh jurusan, para dosen, tendik, mahasiswa, dan masyarakat umum, dari dalam maupun dari luar lingkungan UIN Walisongo. Sebagian mereka terpantau bergabung langsung dalam video conference via aplikasi Jitsi.meet dan sebagian yang lain menonton di streaming Youtube milik WTV dan MBS.

Live streaming yang dipandu oleh mahasiswa dari crew MBS-WTV, Syadza Haniya Anwar ini memuat beberapa item acara, yaitu pembacaan ayat suci al-Quran oleh Ahmad Thohir Sabilur Rosyad; sambutan Dekan FDK oleh Bapak Dr. Ilyas Supena, M.Ag; khatmil Qur’an yang dipimpin oleh Ustadz Kholisin, M.S.i; tahlilan yang dibawakan oleh Ustadz Komarudin, M.Ag; do’a khatmil Quran oleh Dr. H. Safrodin, M.Ag; dan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh Ustadz KH. Drs. Ahmad Anas, M.Ag.

Pelaksaan khataman dan Nuzul Quran tersebut semakin mempertegas komitmen FDK pada pembumian nilai-nilai al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Dekan FDK, Ilyas Supena dalam pengantarnya menyatakan, “Kegiatan ini menjadi penting bagi FDK dan UIN Walisongo dalam upaya membangun keseimbangan antara semangat rasionalitas akademik dan semangat supra-rasional spiritual keislaman.”

Beliau juga menegaskan, “Komitmen untuk menyeimbangkan rasionalitas dan spiritualitas semakin menemukan relevansinya dengan kondisi dunia saat ini yang sedang mengalami Pandemi Covid 19. Kita manusia dituntut untuk muhasabah diri dengan tidak hanya memikirkan dunia semata, tetapi juga ukhrawi.”

Upaya menerjemahkan al-Qur’an dalam kehidupan nyata semakin terang melalui uraian KH. Drs. Ahmad Anas pada sesi mauidzah hasanah. Beliau mengatakan, “al-Quran harus menjadi spirit kehidupan, spirit pembangunan, spirit sosial, spirit bersinergi, dan spirit kreasi-inovasi.” Spirit ini harus mewarnai perjalanan kehidupan manusia. Menurut beliau, “Al-Quran adalah syafaat dan syifa’. Ia ibarat oase di tengah gurun yang mampu menjadi penawar dahaga dan solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi manusia. Apapun yang dilakukan manusia tidak boleh melepaskan al-Quran.” Bahkan, tegasnya, “kajian dan studi apapun harus terbimbing oleh al-Qur’an. Setinggi apapun ilmu dan capaian manusia mesti berangkat dari ruh al-Quran. Teknologi canggih terutama kemajuan teknologi cyber yang dihasilkan manusia saat ini mestinya harus tunduk di bawah titah dan nilai-nilai ketuhanan.”

Dengan demikian peran ulama sangatlah penting dalam menerjemahkan dan memahamkan al-Quran. “Ulama adalah kunci peradaban, karena ulama tidak hanya mengembangkan keilmuan tetapi juga juga menjadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT,” paparnya. Beliau kemudian menegaskan, “Bertambahnya pengetahuan keilmuan harus pula mendorong peningkatan kedekatan kepada Allah. Maka melalui tangan ulama, keseimbangan pencapaian dunia dan akhirat akan dapat terwujud.”

Akhirnya beliau berpesan agar rekan dosen dan mahasiswa concern dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis pada semangat al-Quran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *