WORKSHOP INKLUSI FOR ALL MENUJU KAMPUS RAMAH DIFABEL

WORKSHOP INKLUSI FOR ALL MENUJU KAMPUS RAMAH DIFABEL

Senin 10 Desember 2018, Organisasi kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo bekerjasama dengan Come Unity Komunitas Sahabat Mata Semarang mengadakan acara fullday Workshop Inklusi For All dengan tema UIN Walisongo Inklusif Fakdakom Ramah Difabel. Acara ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan jajarannya, para difabel netra dari Komunitas Sahabat Mata, serta pihak Mandiri Amal Insani Foundation. Kegiatan ini diikuti oleh 30 mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi dari semua angkatan.

Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi mahasiswa supaya bisa lebih care terhadap para difabel. Oleh karena itu kampus harus inklusif dan ramah terhadap difabel. Ungkap Qori Setiawan selaku ketua panitia sekaligus ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Dr. H. Awaludin Pimay, Lc., M.Ag. selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dalam sambutannya menyampaikan bahwa pimpinan memberikan apresiasi terhadap kegiatan fullday workshop inklusi for all ini. Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi sendiri ada beberapa mahasiswa difabel dan tidak ada diskriminasi terhadap mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi dan menjadi I’tibar bagi masyarakat kampus untuk bisa menjadi lebih baik.

Workshop ini juga dihadiri oleh Manajer Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation Yobi Bagus H. Yobi menyampaikan  MAI selalu mensuport kegiatan pengembangan masyarakat baik fisik maupun non fisik, termasuk kegiatan pengembangan SDM bagi difabel.

Basuki ketua Komunitas Sahabat Mata sekaligus narasumber kegiatan ini menyampaikan bahwa Workshop Inklusi For All ini dilaksanakan secara rutin untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan penyandang disabilitas. Kegiatan ini juga sebagai kampanye untuk mensosialisasikan lima mandat inklusi  yaitu data terpilah, aksesibilitas, peningkatan kapasitas, prioritas perlindungan, dan partisipasi. Diharapkan melalui kegiatan ini mahasiswa memahami konsep disabilitas dan inklusi secara baik. Karena konsep disabilitas sangat dipengaruhi oleh seberapa inklusif lingkungan tersebut. Semakin besar derajat inklusifitas lingkungan maka semakin rendah tingkat disabilitas.

Selain Basuki kegiatan ini juga diisi oleh Andhik Setiono seorang difabel netra yang merupakan alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo. Dalam paparannya Andik menyampaikan materi tentang implementasi praktek sederhana penyandang disabilitas dalam dunia kampus. Materi tersebut berisi tentang cara-cara membantu tuna netra saat melakukan mobilitas di kampus.

Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut, karena acara didesain secara interaktif. Tidak seperti kegiatan workshop seperti biasanya, peserta langsung mempraktekan materi yang disampaikan narasumber. Untuk mengetahui seberapa dalam pemahaman peserta terhadap konsep disabilitas dan inklusi, di awal acara dilakukan pre test secara lisan. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan penampilan group music Perca Voice yang seluruh anggotanya adalah para difabel netra. (AH/81)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *