Annual Conference on Da’wah and Communication

Annual Conference in Da'wah and Communication

DAKWAH BIL HIKMAH: MEMBANGUN TOLERANSI BERAGAMA DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Judul di atas merupakan tema Annual Conference on Da’wah and Communication tahun 2017 di Hotel Pandanaran Semarang.

Narasumber utama annual conference ini, adalah Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag, Dr. H. Nafis, MA., dan Dr. Mamat S. Buhanuddin dari Kementerian Agama Pusat.

Dakwah bil Hikmah terjemah literalnya adalah dakwah dengan bijaksana. Sebagaimana dalam al-Quran Surat an-Nahl ayat 125, kita diperintah oleh Allah SWT untuk berdakwah dengan cara hikmah (bijaksana), mau’idhoh hasanah (memberi nasehat yang baik) dan mujadalah (berdiskusi) yang baik.

Berdasarkan kajian-kajian literatur dakwah bil hikmah, oleh Dr. H. Nafis, MA dirangkum bermakna konten yang terbaik, penampilan dai yang pandai dan atraktif, membangun sistem atau institusi dakwah, berbasis kebutuhan madu, dan dinamis terhadap local wisdom (budaya setempat).

Pertama, Dakwah bil hikmah haruslah menyampaikan materi yang terbaik. Ibarat penjual haruslah menjual produk yang terbaik. Produk yang terbaik itu adalah Islam. Islam haruslah ditunjukkan kelebihan-kelebihannya daripada yang lainnya.

Kedua, dakwah bil hikmah juga harus disampaikan oleh dai yang pandai dan atraktif (menarik). Pandai dalam membaca situasi dan menarik dalam menyampaikan dakwah. Dakwah disampaikan tidak hanya dengan ceramah saja, namun menarik dalam sisi uswah hasanah (contoh yang baik). Sehingga mad’u (obyek dakwah) menerima keberadaan dai. hal ini berujung dai bisa berdakwah dengan amar ma’ruf nahi munkar.

Ketiga, dakwah bil hikmah juga bermakna membangun sistem atau institusi dakwah sehingga mempunyai kekuatan di masyarakat. Dan dakwah dilakukan secara sistemik dan tidak parsial.

Keempat, dakwah bil hikmah bermakna fokus pada kebutuhan mad’u (masyarakat). Dakwah yang baik bukan masyarakat mengikuti kemauan dai, namun dai fokus pada kebutuhan masyarakat, Dalam arti, dai dapat membaca kebutuhan masyarakat dan memberikan solusi atas problematika yang muncul di masyarakat.

Kelima, dakwah bil hikmah juga berarti dinamis terhadap budaya setempat (local wisdom), tidak kemudian meninggalkan tradisi-tradisi lokal, namun sudah seharusnya membuat budaya baru yang Islami yang tidak meninggalkan budaya lokal.

Dakwah bil hikmah tersebut, oleh Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag disinggung perlunya ilmu dakwah harus melibatkan ilmu-ilmu lain sehingga dapat berkembang. Dakwah berbasis riset menjadi kunci agar dakwah bil hikmah tercapai. ilmu dakwah perlu berkolaborasi dengan ilmu sosiologi, antropologi, politik dan sebagainya dalam kerangka unity of sciences (wahdatul ulum/kesatuan ilmu).

Dakwah bil Hikmah merupakan metode yang tepat dalam situasi yang dihadapi Pemerintah Indonesia, yaitu radikalisasi agama dan rongrongan terhadap NKRI.

Radikalisasi agama ditandai dengan maraknya terorisme mengatasnamakan agama, serta dakwah dengan marah-marah yang terjadi di masjid masjid.

Gerakan Islam ada juga yg berusaha merongrong kedaulatan NKRI, mereka berusaha mendirikan khilafah dan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia adalah pemerintah thoghut.

Oleh karena itu layak dan urgen untuk menggunakan Dakwah bil Hikmah sebagai metode dakwah dalam menghadapi gerakan radikalisasi dan anti NKRI. Mengingat negara kita berdasarkan Pancasila, serta berbagai macam agama dan suku bangsa. Maka sangat mendesak untuk dijalankan dakwah bil hikmah yang berorientasi pada toleransi beragama yang berbasis multi kultural.

Dakwah dengan cara hikmah juga di dukung oleh Kementerian Agama yang mengharapkan adanya sertifikasi dai bukan atas desakan dari pemerintah melainkan dari forum seperti annual conference seperti ini. (hattaabdulmalik/80)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>